Kata ‘bertobat’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti menyesal dan berniat hendak memperbaiki (perbuatan yang salah dan sebagainya). Juga berarti kembali kepada Tuhan atau agama (jalan) yang benar. Kata ini berasal dari kata dasar tobat yang artinya sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan.
Sementara kata bertobat dalam Lukas 13 ayat 3 dan 5 diterjemahkan dari kata Yunani metanoete dengan kata dasar metanoeo yang artinya bertobat; menyatakan penyesalan; berpikir secara berbeda setelahnya. Sedalamnya arti kata ini adalah mengubah pikiran; mengubah manusia batiniah (terutama yang berkaitan dengan penerimaan kehendak Tuhan). Juga menyiratkan perubahan pikiran atau hati yang mendalam. Kata ini dapat dibandingkan dengan kata shuv dalam bahasa Ibrani yang artinya berbalik atau kembali kepada Tuhan dan jalan-jalan-Nya.
Sikap bertobat ini sering dikaitkan dengan menjauhi dosa dan berpaling kepada Tuhan. Hal ini melibatkan pengakuan akan kesalahan, penyesalan atau penyesalan yang tulus, dan komitmen untuk berubah dan mengubah perilaku diri sendiri serta dan menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan. Konsep ini merupakan inti dari pesan keselamatan Kristen dan sering dikaitkan dengan iman dan pertobatan. Pertobatan bukan sekadar tanggapan emosional tetapi titik balik yang menentukan dalam kehidupan seseorang. Ini adalah panggilan untuk meninggalkan cara-cara lama dan merangkul kehidupan baru di dalam Kristus. Sikap ini terarah pada diri sendiri dan tidak pernah ke arah orang lain.
Karena bertobat tidak pernah ke arah orang lain, maka tidak ada ruang tertuju kepada orang lain sedikit pun. Di satu sisi, ketika seseorang menganjurkan kita bertobat, jangan pula balik menghakimi. Kebanyakan orang bila ditegor untuk bertobat, sadar atau tidak sadar memiliki defense mechanism (mekanisme pertahanan) sendiri, membela diri bahkan membalas menghakimi. Padahal tidak sedikit orang yang menganjurkan untuk bertobat, sesungguhnya karena melihat dalam diri kita ada yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, atau dengan etika umum, termasuk etika gereja. Di sisi lain, jangan mereka-reka seseorang harus bertobat, sementara diri kita sendiri tidak mau bertobat. Juga jangan membandingkan hukuman yang dialami orang lain, sebagai alasan untuk menghakimi seseorang agar bertobat, agar tidak mengalami hukuman yang sama dengan orang lain tersebut. Namun, jika ada yang menegor kita untuk bertobat, untuk melihat kembali apa yang kita lakukan dan putuskan salah, maka rendah hatilah untuk mengintrospeksi diri sendiri, untuk meninjau kembali dan mengakui bila salah lalu bertobat. Jangan pula mencari ‘kambing hitam’ demi mempertahankan bahwa kita tidak salah dan untuk itu tidak perlu bertobat atau berubah. Yesus menghendaki agar semua orang bertobat dan hidup dalam semangat pertobatan. (TMP)