Siapapun orangnya yang mempersiapkan pernikahan, baik orang tua – mempelai – keluarga –
kerabat – orang-orang terdekat, akan mempersiapkan apa yang direncanakan dengan baik dan cermat.
Segala yang diinginkan agar pada hari H terwujud dengan baik dan tidak meleset. Apakah pada saat
pelaksanaan semua akan berjalan sesuai rencana? Semua tidak dapat diketahui, sekalipun segala sesuatu telah
dipersiapkan dan direncanakan bisa jadi tidak sesuai kenyataan. Perhitungan dan rencana memang harus
cermat dan matang, tetapi janganlah hanya mengandalkan akal, namun juga hati terlebih Tuhan untuk hadir.
Kisah perkawinan di Kana yang diangkat Yohanes menegaskan kepada kita, betapa keluarga
telah mempersiapkan dan merencanakan pesta dengan baik dan cermat. Saat itu keluarga memang
belum sepenuhnya mengetahui apa yang terjadi dengan urusan perbekalan berkaitan dengan
kekurangan air anggur. Bagi masyarakat Yahudi selain makanan, maka air anggur merupakan bagian
penting pelaksanaan pesta. Kekurangan air anggur bukan saja memalukan namun akan menurunkan
citra kelurga dan bagaimana masyarakat akan memperbincangkan yang tentu bakal membuat
ketidaknyamanan dalam hidup mereka. Mendapatkan air anggur dalam waktu singkat juga bukan
perkara mudah, kalau pun ada pasti membutuhkan uang tidak kecil dan bisa jadi harus membayar
dengan biaya lebih.
Sebagai bagian keluarga, Maria tahu betul agar situasi dan keadaan tidak semakin parah serta
membuat malu. Maria tahu saatnya bagi Yesus, anaknya untuk bertindak dan melakukan perkara yang
tidak mungkin menjadi nyata. Maria berkata, “Mereka kehabisan angur.” Yesus pun menjawab, “Mau
apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Maria menegaskan kepada para pelayan, “Apa yang
dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” Sebagai seorang ibu, Maria meyakini bahwa anaknya
sanggup mengatasi keadaan darurat dan persoalan akan terselesaikan. Yesus berkata, “Isilah tempayan-
tempayan itu penuh dengan air.” Para pelayan menurut dengan perintah Yesus mengisi enam tempayan
yang biasa digunakan sebagai tempat penampungan air untuk menucici kaki bagi tamu dengan masing-
masing berisi air berkisar antara 80 hingga 120 liter air.
Perubahan besar pun terjadi, air yang dimasukan ke dalam tempayan berubah menjadi air
anggur dengan kualitas tinggi dan sangat bermutu. Kehadiran Yesus dalam pesta bukan kebetulan,
bukan hanya semata-mata sebagai tamu dan kerabat tetapi Dia yang sanggup mengubah kepanikan
menjadi tenang. Keadaan itu seolah tidak ada persoalan dalam pesta pernikahan bahkan membuat
sukacita bagi mempelai, keluarga dan seluruh tamu yang hadir. Yesus bukan hanya diperlukan pada saat
darurat dan keadaan yang tidak mengenakan. Seharusnyalah sebagai orang beriman Yesus selalu kita
hadirkan dalam seluruh kehidupan kita. Dengan kegadiran-Nya, kita tidak akan pernah merasa malu,
kecewa pada saat mengalami kegagalan dan ketidakberhasilan. Dia akan menyanggupkan kita untuk
tidak terpuruk dan tidak menjadi malu. Demikian juga tatkala kita berhasil, berada dalam kesuksesan
maka bersama Yesus kita akan menjadi orang yang rendah hati dan tidak meremehkan sesama. (SRS)