Jadwal Kebaktian Lihat Arsip

Jadwal Kebaktian : Minggu 16 Maret 2025

"TETAP BERKARYA WALAU TERANCAM"

——— LUKAS 13:31-35

Seorang imam Jesuit bernama Anthony de Mello pernah berkata, “Jika engkau mencari kebenaran, engkau berjalan sendirian. Jalan itu seringkali menjadi terlalu sempit untuk banyak orang. Siapakah yang dapat bertahan dalam kesendirian itu?” Ungkapan ini menegaskan betapa tidak mudahnya seseorang untuk melakukan kebenaran dan hidup dalam integritas. Tak jarang ia harus menanggung risiko tidak disukai banyak orang dan hidup dalam kesendirian.

Hal ini jugalah yang dialami Yesus dalam bacaan kita hari ini. Ketika Yesus melakukan kebenaran, Ia pun tidak disukai banyak orang, salah satunya Herodes. Herodes punya rencana membunuh Yesus. Di tengah situasi itu, saran beberapa orang Farisi supaya Yesus meninggalkan Yerusalem dan menyelamatkan diri dari Herodes di ayat 31 bisa ditafsir dari dua perspektif. Pertama, mereka mengusir Yesus secara halus dengan mengatasnamakan ancaman pembunuhan Herodes. Kedua, saran itu merupakan bentuk solidaritas orang Farisi terhadap Yesus. Artinya, di antara kaum Farisi sendiri ada yang membenci Yesus, ada juga yang bersimpati kepada-Nya. Peringatan ini jelas beralasan, sebab perhatian Herodes mulai tertuju kepada Yesus, yang disebut- sebut orang sebagai Yohanes yang bangkit, bahkan sebagai Elia (Luk. 9:7-8). Menariknya, sekalipun berada di situasi terancam, keputusan Yesus untuk menjalani misi Kerajaan Allah di Yerusalem sudah bulat. Peringatan dari beberapa orang Farisi sama sekali tidak menyurutkan niat-Nya.

Alih-alih menghindar dari ancaman dan lari dari bahaya, Yesus justru mendeklarasikan misi Kerajaan Allah. Bagi Yesus, kematian tidak dapat dihindari, sebab bagaimana pun, orang-orang akan tetap menolak dan berambisi melenyapkan-Nya. Kematian adalah konsekuensi dari cinta yang menembus batas, serta keberanian melawan arus kekuasaan politik dan agama. Ungkapan Yesus di ayat 32, “..., dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai” menegaskan bahwa Yesus tahu bahwa karya cinta-Nya akan berpuncak pada kebangkitan.

Alih-alih takut dan segan, Yesus justru berani menyebut Herodes sebagai “rubah” (licik, merusak, tidak bermartabat). Sang penguasa yang ditakuti, dijuluki-Nya sebagai binatang. Tak berhenti sampai di situ, Yesus juga mengungkap kalimat satir berupa ratapan tentang Yerusalem, yang dijuluki-Nya sebagai “pembunuh nabi- nabi’. Kota suci, yang diyakini sebagai kota Allah, pusat berkat, malah dijuluki sebagai kota pembunuh para nabi. Bagi Yesus, Yerusalem seperti induk ayam yang tidak memiliki keinginan untuk mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya. Yerusalem akan mengalami kesepian dan kehampaan. Seruan Yesus ini jelas merepresentasikan keberanian-Nya menyuarakan kebenaran sekalipun dalam situasi terancam. Yesus tahu untuk apa Ia datang, ke mana cinta-Nya bergerak, serta bagaimana Kerajaan Allah harus ditegakkan.

Hidup dalam kebenaran dan integritas memang tak selalu mudah. Tak jarang hidup dalam kebenaran justru menempatkan kita di jalan kesendirian. Kita tidak disukai bahkan dianggap aneh oleh orang di sekitar kita. Namun, pada Minggu II Prapaskah ini, kita dipanggil untuk meneladan Yesus yang tidak menyerah dan tetap berkarya melakukan kebenaran walau harus menghadapi banyak tantangan dan ancaman. Mari kita melangkah di jalan yang sepi dan sempit itu. Ingatlah bahwa kita tidak sendirian, sebab Yesus juga berjalan di jalan yang sama. Percayalah Ia akan selalu memampukan kita untuk melakukan kebenaran-Nya. Amin (FYM)

Pelayan Kebaktian