Jadwal Kebaktian Lihat Arsip

Jadwal Kebaktian : Minggu 09 Juni 2024

"PEDIH NAMUN PULIH"

——— (YESAYA 6:1-13)

Post-Traumatic Growth (PTG) atau pertumbuhan pascatrauma adalah sebuah istilah yang
pada tahun 1995 diperkenalkan oleh Richard G. Redeschi dan Lawrence G. Calhoun. PTG merujuk pada
transformasi positif yang dialami seseorang setelah mengalami kondisi traumatis. Mereka tidak hanya
pulih dari kondisi terluka akibat pengalaman traumatisnya, tetapi juga mengembangkan makna baru
dalam berbagai aspek kehidupannya. Jadi, pengalaman buruk seseorang di masa lalu tidak
mendefinisikan dirinya di masa depan. Mereka yang pernah atau sedang mengalami kelamnya
kehidupan karena peristiwa traumatis tetap memiliki harapan untuk pulih dan bahkan bertumbuh. Tentu
ini bisa terjadi ketika seseorang bersedia memasuki proses pemulihan yang seringkali tidak mudah dan
membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Pada zaman Perjanjian Lama, istilah pertumbuhan pascatrauma memang belum ada, tetapi
jejaknya dapat kita temukan dalam diri Nabi Yesaya. Secara menarik, Elizabeth Esterhuizen dan
Alphonso Groenewald, dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa Yesaya mengalami beberapa peristiwa
traumatis. Pertama, ia menerima kabar duka akan kematian Raja Uzia. Momen ini tampak signifikan
bagi Yesaya, sebagaimana menjadi pengantar dalam narasi penglihatannya (lih. ay. 1). Pengalaman
ditinggal mati dapat menjadi pengalaman traumatis seseorang. Kedua, ia mendapatkan penglihatan
akan Tuhan yang justru membuatnya begitu dihantui perasaan takut dan bersalah, tidak hanya rasa
bersalah pribadi tetapi komunal (lih. ay. 5). Tampaknya perasaan itu begitu hebat dan mengguncang
batin, sampai-sampai Yesaya merasa akan binasa.
Sungguh bersyukur, Tuhan tidak membiarkan anak-Nya dikuasai oleh perasaan yang
menekan. Tuhan memulihkan Yesaya. Melalui serafimnya, Tuhan menyentuhkan bara menyala ke
bibirnya. Terbayang sakitnya? Ah, membayangkan gorengan panas menyentuh bibir saja sudah terasa
perihnya, apalagi bara menyala! Pasti sangat menyakitkan, pedih! Namun, itulah proses yang Tuhan
berikan bagi Yesaya. Dalam proses yang pedih, Tuhan pun mengatakan, “kesalahanmu telah
disingkirkan dan dosamu telah dilenyapkan” (ay. 6). Proses yang pedih itu justru menjadi cara Tuhan
untuk membebaskan Yesaya dari segala rasa bersalah yang menghantuinya. Tidak berhenti sampai di
situ, proses pemulihan jugalah yang meyakinkan Yesaya untuk memberi diri, “Ini aku, utuslah aku!”
(ay. 8). Yesaya tidak hanya pulih dari segala rasa ketakutan dan rasa bersalah akibat berbagai peristiwa
traumatis yang dilaluinya. Yesaya beranjak lebih jauh dari sekadar pulih. Ia bahkan dapat memberikan
diri-Nya untuk dipakai oleh Tuhan menjadi seorang nabi.
Mungkin banyak dari kita yang pernah atau sedang menghadapi gelapnya hidup karena
adanya peristiwa traumatis, baik yang dirasa berat maupun ringan. Mungkin ada juga dari kita yang
jatuh dan terpuruk, bahkan sampai merasa akan binasa seperti Yesaya. Namun, dalam situasi kelam
ini, Tuhan hadir dan memulihkan dengan cara-Nya. Memang kerap terasa menyakitkan dan menguji
kesabaran. Tak jarang juga terkesan tidak adil (Kita yang tertekan kok kita juga yang harus berjuang
untuk pulih?). Namun, seperti yang dialami Yesaya, pedihnya proses pemulihan dari dan bersama Tuhan
tidak hanya membuat kita kembali pada kondisi “normal”. Proses itu akan membuat kita mengalami
pertumbuhan. Kita akan semakin siap dan kuat untuk memberitakan kebenaran-Nya. Maka, nikmatilah
proses dari Tuhan yang meski pedih namun (berujung) pulih, bahkan siap untuk memperjuangkan
kebenaran sebagai orang yang dipilih. (EA)

Pelayan Kebaktian